REVIEW: REKAYASA SOSOAL DAN KELEMBAGAAN PETANI

Farmers' Social and Institutional Engineering: A Review

  • Srisasmita Dahlan Balai Pengkajian Teknologi Sulawesi Selatan
  • Abigael R. Tondok Balai Pengkajian Teknologi Sulawesi Selatan
  • Repelita Kallo Balai Pengkajian Teknologi Sulawesi Selatan
Keywords: Rekayasa, sosial, pemberdayaan, petani

Abstract

Potensi kekayaan alam Indonesia sangat luar biasa, baik sumber daya alam hayati maupun non hayati namun besarnya kekayaan alam Indonesia tidak menjamin bahwa petaninya juga berdaya. Kebanyakan petani hidup di dalam ketidakberdayaan baik secara sosial maupun secara ekonomi Petani berdaya merupakan petani yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan tindakan terhadap potensi yang dimilikinya. Untuk mencapai tingkat keberdayaan, maka dilakukan Rekayasa sosial (social engineering) bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang berdaya dalam segala jenis aktivitas kemasyarakatan. Perubahan sosial tidak akan menuju ke arah yang direncanakan apabila kesalahan berpikir masih dipraktekkan. Rekayasa sosial hanya akan efektif apabila mampu meningkatkan pendapatan petani, dengan mengembangkan pola pikir yang berlandaskan kesamaan persepsi dan pemahaman, keinginan untuk maju bersama dan memanfaatkan segenap potensi dan peluang yang ada. Untuk mendukung rekayasa sosial dan keberdayaan petani didukung oleh beberapa faktor seperti konsep Servaes (2002) menyatakan proses komunikasi pembangunan partisipatif terkait konsep pemberdayaan diantaranya adanya forum dialog akar rumput, fungsi baru komunikasi, adanya media partisipatif, berbagi pengetahuan secara setara dan model komunikasi pendukung pembangunan. Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah menganalisis rekayasa sosial mampu mendorong keberdayaan masyarakat tani. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah literature review. dengan menggunakan tiga studi kasus yang di peroleh dari jurnal-jurnal penelitian menyangkut kajian yang dilakukan terdahulu. Strategi Rekayasa Sosial dan keberdayaan petani yang dilakukan umumnya masih kurang memperhitungkan kemandirian masyarakat. Hasil pembelajaran rekayasa sosial dan keberdayaan petani pada studi kasus antara tujuan ideal yang ingin dicapai dengan hasil nyata yang didapatkan di lapangan masih menunjukkan kesenjangan yang relatif besar. Dalam melakukan rekayasa sosial dan keberdayaan petani pelaksana dan pendamping harus memiliki kompetensi, baik dalam keterampilan teknis, kapabilitas manajerial, dan melakukan koordinasi secara efektif. Terbatasnya kemampuan kapasitas SDM petani, informasi yang disajikan dalam CE (cyber extension ) seringkali tidak sesuai dan belum menjawab permasalahan di lapangan sehingga Rekayasa Sosial pemanfaatan cyber extension belum termanfaatkan dengan baik.

Published
2021-12-24